Community Containment sebagai Strategi Melawan COVID-19

Penulis : M. Sopiyudin Dahlan (CEO Epidemiologi Indonesia)

“Ketika vaksin dan obat belum ada, cara tradisional adalah pilihannya,” demikian kira-kira kebijakan yang diambil Negara China untuk mengatasi COVID-19. Salah satu strategi tradisional yang dilakukan Negara China adalah community containment.

Community containment sebagai strategi melawan wabah virus COVID-19 by Sopiyudin Dahlan

Apakah yang dimaksud community containment sebagai strategi melawan COVID-19?

Salah satu strategi tradisonal adalah “Community Containment”. Terminologi ini mirip dengan isolasi. Jika isolasi adalah terminologi yang disematkan pada pembatasan individu, maka community containment adalah pada level yang lebih luas. Misalnya sekolah, pasar, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, bahkan negara. 

Terkait wabah COVID-19, strategi ini sangat masuk akal. Pembatasan gerak penduduk daerah wabah mengurangi kemungkinan penularan virus COVID-19 ke daerah yang tidak terdampak. Dengan demikian, distribusi virus bisa terlokalisir di satu tempat saja. Manfaatnya, sasaran tembak menjadi lebih tertarget. Itulah mengapa community containment adalah strategi tradisional yang diharapkan efektif melawan wabah COVID-19.

Bagaimana China mengimplementasikan community containment sebagai strategi melawan COVID-19?

Belajar dari wabah yang terjadi di Wuhan, kita simak kembali time line apa yang terjadi di sana (JAMA online, 24 February 2020).

🗒🗒🗒
26 Desember 2019: Ditemukan kasus pneumonia yang tidak biasa.
27 Desember 2029: Kasus dilaporkan ke CDC Wuhan.
30 Desember 2019: Mulai dilakukan penemuan kasus secara aktif.
31 Desember 2019: Kasus dilaporkan ke CDC China dan WHO.
1 Januari 2020: Huanan Seafood Market ditutup.

✍️ Community containment pertama sebagai strategi melawan COVID-19 (yang waktu itu belum diketahui) dilakukan pada level pasar. Pasar ditutup tujuh hari pasca temuan kasus karena diduga sebagai sumber transmisi penyakit yang saat itu masih belum diketahui penyebabnya. Penyebabnya (COVID-19) baru diketahui tanggal 7 Januari 2020 atau sekitar dua minggu setelah kasus pertama.

 

Kita lanjutkan pada time line.
🗒🗒🗒
23 Januari 2020: Kota Wuhan di-shut down.
24 Januari 2020: lima belas kota lainnya di-shut down.

✍️ Artinya, Community containment berikutnya dilakukan pada level yang lebih luas. Setelah pasar, lalu kota dan beberapa kota.

✍️ Waktu antara temuan kasus sampai shutdown adalah 29-30 hari.

✍️ Waktu antara penyebab diketahui sampai shut down adalah 17-18 hari.

 

Apakah mungkin Indonesia melakukan community containment sebagai strategi melawan wabah COVID-19?

Pertanyaan berikutnya, apakah mungkin di kita melakukan community containment sebagai strategi melawan wabah COVID19?

✍️ Karena levelnya adalah level kebijakan publik, tentu kita menunggu keputusan apakah strategi ini diambil atau tidak. Saya berharap, semoga kebijakan ini segera diambil. Jika strategi ini diambil, maka selanjutnya adalah bagaimana pelaksanaannya di lapangan.

“Apa yang dilakukan Negara China belum tentu yang terbaik. Namun, kita bisa belajar dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Simak kembali “journal reading” tentang Pelajaran dari China dalam Menangani Wabah. Infografis saya jelaskan mulai menit 7.

http://bit.ly/lsessonfromchina